FSPS: Pemagangan Lebih Buruk daripada Outsourcing

Suka dengan Artikel ini silahkan Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Karawang, fsps.or.id- Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa (FSPS) menilai peserta magang mengerjakan pekerjaan yang dilakukan buruh, tapi tingkat kesejahteraannya berbeda. Sebab, peserta pemagangan tidak mendapat upah, hanya uang saku yang besarannya ditentukan sendiri oleh perusahaan.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa (FSPS) Abda Khair Mufti , berpendapat praktik pemagangan rawan disalahgunakan. Peserta magang kerap dipekerjakan, seperti pekerja/buruh pada umumnya. Tingkat kesejahteraan peserta magang jauh berbeda dengan pekerja/buruh.

“Dalam ketentuannya, peserta pemagangan hanya mendapatkan uang saku. Tetapi tak jarang mereka dipekerjakan selayaknya pekerja. Mereka bekerja delapan jam sehari atau 40 jam seminggu, bahkan ada yang diwajibkan untuk ikut lembur,” kata Abda khair mufti.

Abda Khair Mufti menilai praktik pemagangan lebih buruk dari outsourcing. Buruh outsourcing memiliki hak untuk mendapat upah paling sedikit upah minimum dan jaminan sosial. Tapi peserta pemagangan tidak mendapat upah, hanya uang saku yang besarannya ditentukan sendiri oleh perusahaan.

Menurut Abda Khair Mufti, perusahaan cenderung memilih merekrut peserta magang daripada pekerja/buruh. Dia mencatat praktik pemagangan mulai marak tahun 2016 ketika Presiden Joko Widodo meresmikan gerakan pemagangan nasional. Baginya pencanangan tahun 2021-2022 sebagai tahun magang perlu dibatalkan karena yang diperlukan sekarang itu memastikan agar buruh yang masih bekerja tidak kehilangan pekerjaannya karena terdampak pandemi. “Pemerintah lebih baik membuka lapangan kerja baru,” pintanya.

Sebelumnya Pemerintah melakukan upaya untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja di Indonesia, salah satunya dengan program magang. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, menetapkan tahun 2021-2022 sebagai tahun magang. Magang diyakini menjadi solusi positif mengingat ada kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi di tengah produktivitas perusahaan yang menurun selama pandemi Covid-19.

“Kami canangkan Tahun 2021-2022 akan menjadi the Year of Apprenticeship atau Tahun Magang,” ujar Ida Fauziyah dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/7/2021).

Ida menjelaskan pemagangan merupakan konsep belajar sambil bekerja (learning by doing). Proses magang mengajarkan peserta magang untuk membiasakan diri mengikuti proses pekerjaan yang biasa dilakukan dan akan dilakukan. Melalui magang, peserta tidak hanya melihat dan mendengarkan teori, tetapi mereka juga harus melakukan pekerjaan secara manual atau nyata.

Yang normatif saja masih banyak yang dilanggar apalagi ini seolah olah pemerintah melegalkan praktik ini.

Komentar Facebook

Suka dengan Artikel ini silahkan Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •