Marsinah dibunuh karena menuntut kenaikan gaji

Suka dengan Artikel ini silahkan Bagikan
 
  
 more 

Sidoarjo, fsps.or.id– Marsinah, 28 tahun yang lalu tepatnya 8 mei 1993, beliau adalah seorang buruh wanita yang telah dibunuh dengan sangat keji. Dia tewas mengenaskan dengan kemaluan ditembak.

Berawal dari Surat edaran No. 50/Th. 1992 yang diterbitkan pada awal tahun 1993, menjadi awal petaka bagi Marsinah dan kawan-kawannya. Surat tersebut berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok.

Marsinah adalah salah satu buruh di PT. Catur Putera Surya (PT. CPS), Porong , Sidoarjo ,Jawa timur Karena tidak ditanggapi dengan baik oleh perusahaan maka karyawannya pun memutuskan berunjuk rasa pada tanggal 3 dan 4 Mei 1993.

Dalam demo karyawan itu, mereka menuntut kenaikan upah dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250 sesuai dengan surat edaran yang ada.

Marsinah menjadi otak sekaligus penggerak massa yang selalu aktif pada acara rapat yang membahas rencana unjuk rasa tersebut.

Tercatat, Marsinah memulai aksi unjuk rasanya pada tanggal 2, 3, 4 hingga 5 Mei 1993. Tanpa sepengetahuan Marsinah, ke-13 rekannya ditangkap dan dibawa ke markas Kodim Sidoarjo. Mereka dipaksa mengakui kesalahannya dalam aksi unjuk rasa dan diminta undur diri dari PT. CPS. Mendengan rekannya ditangkap, Marsinah pun berinisiatif mendatangi Kodim dan menanyakan kondisi teman-temannya. Tak lama setelah peristiwa itu, Marsinah pun dinyatakan hilang pada pukul 10 malam. Keberadaanya tak diketahui sejak tanggal 6 dan 7. Hingga pada akhirnya, ia telah ditemukan menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993 di kawasan hutan dusun Jegong, desa Wilangan dengan sejumlah tanda bekas penyiksaan.

Kasus kematian yang menimpa Marsinah, menjadi sebuah catatan penting bagi Organisasi Buruh Internasional (ILO). Kepergian dirinya karena tindakan brutal aparat negara, membuahkan sebuah penghargaan Yap Thiam Hien dan diberikan di tahun yang sama. Sosok wanita yang merupakan karyawan pabrik pembuatan jam tangan sekaligus aktivis buruh tersebut, meninggal pada usia 24 tahun di tangan rezim penguasa Orde Baru. Hingga kini, namanya sering didengungkan saat peringatan hari buruh tiba. Menjadi sebuah penanda sejarah kelam. Tentang buruh yang harus merelakan nyawanya demi sebuah hak yang tidak terpenuhi.

Hingga kini, kematian Marsinah masih diselimuti oleh misteri yang belum terpecahkan. Meski demikian, sosoknya kini menjadi tonggak kebangkitan para buruh untuk menuntut hak mereka.(***)

Komentar Facebook

Suka dengan Artikel ini silahkan Bagikan
 
  
 more