Setelah CILAKA, Kini Buruh Di Uji Dengan Aturan Baru JHT, Nasib Buruh Semakin Terkubur !

JHT dapat di ambil umur 56 tahun

JHT dapat di ambil umur 56 tahun

Suka dengan Artikel ini silahkan Bagikan
      
    
  

Memaknai aturan klaim pencairan JHT terbaru, buruh/pekerja serasa alami “ujian”, setelah didera polemik UU Cipta Lapangan Kerja (CILAKA) beserta turunannya salah satunya PP 35 dan 36, kini telah hadir kembali Permenaker No. 2 Tahun 2022 tentang Tatacara Persyaratan dan Pembayaran JHT.

Sejauh ini, buruh di keseharian hidupnya dianggap mampu menjalaninya. Menerima kepastian kenaikan upah tahunan (UMP) Dan kemudian, mungkin dianggap bertambah “mahir” lagi tatkala PP 36/2021 tentang Pengupahan pun meluncur.

Lalu, daya “survive” buruhpun dianggap semakin “hebat” karenanya, apalagi bagi buruh yang berpendapatan “nasakom” (Nasib Satu Koma alias Upah Sejutaan). Susahnya mengelola ekonomi keluarga dengan upah “nasakom” menjadi kehebatan yang luar biasa.

Meski sudah “dihujani” beberapa ujian, badai dampak Pandemi Covid-19 pun turut pula hadir menguji, bersamaan ini undang-undang sapujagat, atau yang lebih kita kenal adalah Omnibus Law (UU No. 11 Tahun 2021) tak segan-segan menghampiri Para Buruh/Pekerja di Perusahaannya masing-masing. Klaster Ketenagakerjaan ikut masuk sebagai aturan yg perlu diubah guna menarik investasi. Pasalnya, beberapa aturan ketenagakerjaan dianggap bisa menghambat investasi.

Kini, ujian terbarupun muncul lagi, Soal pencairan JHT lewat Permenaker No. 2 Tahun 2022 tentang Tatacara & Persyaratan Pembayaran JHT.

Pencairan JHT baru bisa dinikmati disaat pensiun di usia 56 tahun. Semangatnya, ingin kembali ke awalnya, pada UU No. 40 Tahun 2004 soal SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional). bahwa Undang-undang itu menyebut JHT ditujukan manfaatnya bagi yang mencapai usia pensiun. Meski soal batas usia pensiunpun tidak ditemukan di UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003.

Permenaker No. 2 Tahun 2022 tersebut telah menggantikan aturan sebelumnya, yaitu Permenaker No. 19 Tahun 2015. Lalu, apakah di “ujian” kali ini, buruh dinilai layak “lulus ujian” atau sebaliknya? Akankah kali ini, soal manfaat JHT baru bisa dinikmati dibatas usia pensiun 56 tahun sebagaimana di Permenaker No. 2 Tahun 2022, bisa diterima Buruh ?

Mengingat sebelumnya, kemunculan Permenaker No. 19 Tahun 2015 yang mengatur pencairan JHT selama ini (basisnya PP No. 60 Tahun 2015) juga didorong atas “PROTES” para buruh dari (PP. 46 Tahun 2015 menjadi PP. 60 tahun 2015) karena ditenggarai ada aturan bermasalah di soal pencairan JHT tersebut ? Akankah Permenaker No. 2 Tahun 2022 ini dituai Protes lagi?

Selamat mengikuti “Ujian” tersebut para buruh/pekerja. Semoga berhasil lulus dari sebuah keadilan yang sampai sejauh ini belum bisa didapatkan, teruslah meraih pengalaman dalam mengelola ekonomi keluarga buruh yg PAS-PAS’an, bahkan bisa jadi malah ber-kekurangan? SEMANGAT Melawan Penindasan.

Komentar Facebook

Suka dengan Artikel ini silahkan Bagikan